PEMULIHAN PASCA OPERASI USUS BUNTU (Apendisitis Akut)


Melanjutkan cerita perihal operasi usus buntu kemarin di www.lindakurniast.com karna kebanyakan dari isi kisah ini adalah curhat maka aku memutuskan untuk posting disini saja, kali ini aku akan menceritakan apa saja yang dilakukan untuk membantu mempercepat penyembuhan pasca operasi usus buntu tersebut. Karna biasanya para pasien yang menjalani operasi ini proses pemulihan bisa mencapai 4-6 minggu untuk bisa kembali menjalani rutinitas seperti semula, namun Alhamdulillahnya empat harian setelah operasi tersebut aku bisa melakukan beberapa kegiatan secara normal. Operasi usus buntu adalah pengangkatan usus buntu/umbai cacing/apendisitis yang hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup. Jadi, gak perlu khawatir akan ada operai usus buntu lagi dikemudian hari jikalau hasil operasi tidak terjadi infeksi maka keep calm aja.

Akhir-akhir ini aku banyak mendengar beberapa kabar seputar operasi usus buntu dari orang-orang sekitar, banyak pula yang menanyakan perihal pantangan makanan, maupun kegiatan yang sebaiknya dihindari pasca operasi, sehingga aku fikir informasi ini setidaknya akan berguna untuk teman-teman yang diliputi kekhawatiran pasca operasi usus buntu tersebut.

Menurut dokter, operasi adalah jalan satu-satunya pengobatan yang dianggap paling baik, dikarnakan pil atupun antibiotik yang diberikan akan bekerja kurang optimal oleh tubuh sehingga akan menghambat proses penyembuhan karna penyerapan tubuh terhadap obat-obat tersebut tidak bisa instan maka memang hanya operasi lah yang dianggap sebagai cara paling tepat.

Oya, sedikit informasi bahwa sebenarnya alternatif untuk menjalanioperasi usus buntu ini ada dua yaitu operasi terbuka (konvensional) dan operasi Laparoskopi kedua operasi ini sama-sama aman hanya saja kelebihan terdapat pada hasil sayatan operasinya yaitu pada operasi Laparoskop bekas sayatan operasi sangat kecil dan bahkan hanya sepanjang 1cm.
Untuk lebih paham lagi tentang metode operasi usus buntu, berikut ini akan sedikit dijabarkan. Jika pasien memilih Operasi Usus Buntu Terbuka maka Dokter bedah akan membuat satu sayatan pada bagian kanan bawah perut pasien dan melihat langsung kondisi usus di dalam rongga perut. Usus buntu dipotong dan dibuang dan luka ditutup dengan jahitan. Sedangkan, Operasi Usus Buntu Laparoskopi Dokter bedah mengakses usus buntu melalui beberapa sayatan kecil di perut. Dokter bedah menggunakan instrumen seperti tabung (selang) untuk beroperasi pada organ yang terinfeksi. Ada kamera di salah satu alat tersebut yang memungkinkan dokter bedah untuk melihat ke dalam rongga perut dan membimbing instrumen agar tepat sasaran. Setelah usus buntu di buang, sayatan kecil dibersihkan dan ditutup. Risiko infeksi dari metode laparoskopi ini lebih rendah dari dari usus buntu terbuka karena luka sayatan yang lebih kecil.
Sumber: Operasi Usus Buntu (Appendectomy) - Mediskus.

Dalam operai ini aku memilih operasi terbuka mengingat biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu mahal dengan kebermanfaatan dan hasil operasi yang tidak terlalu jauh beda dengan operasi laparoskopi.

Back to topic, mengenai proses pemulihan pasca operasi usus buntu yang aku lakukan.

Setelah menjalani rawat inap selama tiga hari di rumah sakit, akupun diperbolehkan pulang dengan kondisi tubuh yang tentu lebih baik dari sebelumnya meskipun nyeri pasca operasi masih terasa. Aku memang sudah merasa tidak nyaman berlama-lama terbaring dirumah sakit dengan menu makanan bubur setiap harinya. Oleh karna itu, sesering mungkin aku talk to myself bahwa aku sudah sembuh dan aku baik-baik saja. Hari sabtu keluar dari rumah sakit, kemudian pada hari minggu langsung terbang menuju Jogja. Sebenarnya, kala itu sepanjang jalan diliputi kegelisahan sebab dua hari kemudian aku mendapatkan jadwal ujian tertulis kolokium dikarnakan tidak ingin menunda lagi untuk melaksanakan kolokium maka sebisa mungkin ku usahakan tubuhku hadir di auditorium hari itu. Untuk berangkat kekampus, aku merasa belum mampu untuk berangkat sendirian mengendari motor karna memang nyeri pasca operasi masih belum hilang.

Pasca operasi nafsu makanku semakin bertambah ini itu mau dimakan rasanya, dan Alhamdulillahnya untuk urusan makanan ini tidak ada pantangan kata dokter.

Ingat banget waktu masa-masa pemulihan pasca operasi aku sabarkan diri untuk makan beragam pil-pil pereda nyeri yang hanya dalam tiga hari sudah habis kemudian harus sabar ketika memacu kendaraan dengan pelan sekali ditambah lagi perjalanan dari kos menuju kampus harus melewati banyak polisi tidur dan itu cukup membuat nyeri pasca operasi akan tiba-tiba kembali muncul.

Beragam pertanyaan aku terima seperti “loh lin udah ke kampus aja?”, “kirain masih dirumah sakit?” atau “Yakin, mau ikut ujian hari ini?” dan lain sebagainya. Pikirku, aku yang punya kendali atas tubuhku sehingga aku berusaha memberi sugesti pada tubuh bahwa aku sedang baik-baik saja.

 Dalam proses pemulihan ini orang tua menyarankan membeli obat china untuk mempercepat pengeringan bagian dalam pasca operasi dan you know what harganya? Satu juta. Jelas aku langsung nolak karna sadar diri gak pernah ngabisin obat apapun kalo sakit takut eman-eman aja gitu. Obat tambahan yang diberikan dokter setelah kontrol sepertinya memiliki dosis yang cukup tinggi sehingga memberikan efek samping jantung berdebar setelah makan obat tersebut baru dua butir diminum dan akhirnya aku hentikan. Meskipun menghentikan minum obat aku tetap menjalani ritual makan putih telur rebus dengan memisahkan kuningnya sehari bisa makan 4-6 butir telur rebus. Selain itu aku juga makan ikan gabus dan suplemen ikan kutuk (obat china) ini rutin setiap hari aku konsumsi demi penyembuhan sesegera mungkin yang aku harapkan.

Selama masa pemulihan tersebut juga, aku dilarang oleh orang tua melakukan kegiatan-kegiatan berat seperti mengangkat ember cucian dll. Selain itu aku jaga hati dan fikiran untuk tetap dalam perasaan bahagia dan positive thinking, sebisa mungkin aku menghindari orang-orang yang dapat memicu bad mood dan lain-lainnya. Gatau kenapa semasa pemulihan itu aku merasa bahagia aja kalo ngampus berasa ada rindu dan kemudian bertemu, seperti liftnya ruangannya mas parkir, bapak-bapak akademik maupun dosen-dosen membuatku bahagia setiap pergi kekampus sehingga merasa ada suntikan energi positif mungkin ini jugalah yang mempercepat penyembuhan.

Selama satu minggu pasca operasi sebenarnya aku tidak benar-benar istirahat ada ujian susulan yang perlu diurus dan rangkaian ujian kolium yang harus segera dituntaskan. Bolak-balik kampus ditambah aku juga menemani orang tua untuk berkeliling jogja sedetikpun tak kusediakan waktu untuk tubuhku bermanja. Perlahan rasa nyeri itu pun hilang, dah bahkan jikalau dalam banyak artikel diinternet menyatakan pasien akan sembuh total dalam jangka waktu 4-6 mingggu Alhamdulillahnya aku tidak selama itu bahkan dokter-dokter tempat kontrolpun menyatakan keheranannya dalam hitungan hari sudah membaik saja, belum lagi beberapa orang yang aku temui heran kalo aku ini baru saja menjalani operasi.Sebab, kalo banyak ngeluh kasian orang tua akan semakin tidak tega meninggalkanku di Jogja..

Sekarang, aku benar-benar menghindari makanan pedas, mie instan dan sebisa mungkin memperbanyak konsumsi sayuran dan memperbaiki pola makan dikarnakan sehat itu mahal, jikalau bisa dicegah dan dirawat kenapa harus mngobati.


[REVIEW PRODUCT] 
TIDAK TAKUT WAJAH BELANG BERKAT WARDAH SUN CARE SUNSCREEN GEL SPF 30 PA++++ WITH ALOE VERA



Dewasa ini kebutuhan akan sunscreen memang sedang marak digandrungi dikalangan pecinta perawatan kulit selain untuk melindungi diri dari sengatan jahat sinar matahari namun juga sebagai pelindung dari penyebab kanker kulit, sehingga disadari atau tidak perlindungan dari sun care menjadi kebutuhan primer untuk kami para wanita.

Dulunya aku gak terlalu peduli dengan sinar matahari yang katanya membuat hitam kulit ataupun keharusan untuk mengenakan sunblock apabila keluar rumah namun kini mulai tau mengenai betapa pentingnya perlindungan kulit dari sinar UV maka, mulai lah aku mencoba sunscreen dari wardah yang SPF 30. Referensi sunscreen ini aku peroleh dari para beauty vlogger yang menyatakan bagus dari hasil reviewnya jadilah aku tertarik dan membeli. Untung saja sunscreen ini mudah ditemui diminimarket terdekat contohnya saja Mitra Swalayan yang berada di jalan Kaliurang km 14.3.

Saat ini aku sudah memasuki bulan ke tujuh pemakaian dan merasa nyaman sehingga tak membuatku memalingkan hati pada produk sunscreen lainnya. Sunscreen wardah ini merupakan sunscreen pertama yang aku coba dan hasilnya memuaskan meskipun terkadang malah membuat kulit jadi tampak berminyak dan sedikit rada kusam jikalau digunakan seharian padahal tipe kulit ku sendiri adalah kulit kering.

Kemasannya yang praktis dan ekonomis berbahan plastic berbentuk tube dengan berat bersih 40 ml. tutupnya flip-flop nan kokok jadi gak khawatir meluber kemana-mana kalo didalam tas hal inilah yang membuatku menjatuhkan pilihan untuk membawanya setia didalam daftar barang wajib yang tak boleh ketinggalan dan bahkan tak jarang selalu menemaniku ketika keluar kota sebagai perlindungan utama kulit wajahku.

Dan bahkan ketika KKN teman-teman satu unit heran terhadap tidak berubahnya warna kulitku meskiupun berkegiatan seharian dibawah terik sinar matahari dan bahkan tidak belang sedikitpun meskipun aku mengenakan hijab, dan hal ini semakin memperparah untuk tetap jatuh hati. Dalam pemakaian normal pengapikasian sebesar biji jagung produk ini bisa bertahan selama 2 bulanan dan bahkan lebih jikalau ketika menggunakan trik ini apabila dipencet sudah tidak bisa lagi gelnya keluar kamu bisa ikuti tips ini yaitu ambil gunting kemudian potong menjadi dua lalu colet-coletin deh biasanya masih nyisah banyak didinding produk haha meunih medit pisan yah maklum mahasiswa gak boleh boros.
Biasanya aku menggunakan sunscreen ini hanya ketika akan berangkat kekampus atau keluar kosan saja selebihnya ku biarkan kulit ini bernafas sebebas-bebasnya.

Kandungan Aloe Vera nya menjadi pelembab kulit wajah sehingga tak perlu lagi membeli pelembab wajah, cukup sunscreen, foundation dan bedak tabur selesai. SPF 30 (yang disarankan untuk pemakaian harian) disini berfungsi untuk melindungi dan melembabkan kulit kemudian kandungan P++++ berfungsi sebagai filter UVA dan UVB dari buruknya sinar matahari kemudian ada kandungan viatamin E juga yang digunakan sebagai anti oksidan. Berbagai kandungan yang dimiliki pada wardah SPF 30 ini benar-benar memberikan dampak baik bagi kulitku.

Dikemasan ditulis bahwa isinya akan berbentuk gel gitu, namun nyatanya aku salah tekstur dari si wardah ini malah terkesan seperti hand body berwarna putih gitu rada-rada creamy sih, but it’s oke for me.
Oya sunscreen ini tidak waterproof sehingga perlu apply lagi apabila selesai sholat karna luntur terkena air wudhu.



Sejauh ini, aku masih merasa nyaman-nyaman aja menggunakan sunscreen SPF 30 dari wardah ini. WARDAH SUN CARE SUNSCREEN GEL SPF 30 PA++++ dapat diperoleh di swalayan terdekat maklum siapa sih yang gatau produk wardah. Kalo aku berlangganan membelinya di Mitra Swalayan dibandrol seharga Rp.35.000,-.

[REVIEW PRODUCT] KOMEDO BERKURANG BERKAT HIMALAYA HERBALS GENTLE EXFOLIATING DAILY FACE WASH


“Merawat Lebih Baik Dibandingkan Mengoperasi” 

Sedikit cerita terlebih dahulu sampai akhirnya jatuh hati pada produk Himalaya ini.
Sejak masuk ke Sekolah Menengah Pertama aku mulai aware mengenai perawatan diri mulai dari wajah, rambut maupun kulit saat itu diajarkan oleh ibu masih menggunakan produk-produk alami seperti; putih telur, madu, bedak beras dan berbagai olahan dapur lainnya yang telah dipercaya turun temurun khasiatnya dengan hasil yang ditampilkan cukup lama namun tanpa efek samping. Resiko menggunakan bahan-bahan alami yaitu lamaaa dan cukup melatih kesabaran.

Baru ketika masuk ke SMA mulai deh mencoba produk-produk olahan pabrik yang biasa dijual di minimarket-minimarket gitu, mulai dari produk A sampai dengan H telah ku coba untuk menemukan yang pas di hati karna ternyata perihal wajah itu cocok-cocokan jadi ketika suatu produk cocok dikulit D belum berarti cocok pula di kulit G sehingga masa pencarian yang dilakukan oleh ku juga cukup panjang.

Dan pada akhirnya saat kuliah aku mulai coba-coba lagi, aku menemukan sebuah produk yang terpajang di etalase Mirota Kampus, Yogyakarta Jalan C Simanjutak karna kebetulan daily face wash sedang habis saat itu dan merasa produk sebelumnya tidak terlalu memberi hasil yang signifikan, sehingga berniat ingin mengganti facial wash baru dalam hal ini masalah terbesar wajahku adalah komedo, jadi aku mulai mencari produk-produk facial wash yang mampu membersihkannya. Pada hari itu, seperti layaknya pembeli dikarnakan mindset ku udah disetir sedari kecil untuk menggunakan produk-produk alami sehingga ada tulisan herbals dikemasan saja sudah membuat iman tergoda untuk membeli HIMALAYA HERBALS GENTLE EXFOLIATING DAILY FACE WASH. Penampilannya yang sederhana botol bening yang biasa aja namun seolah menunjukkan tidak ada penipuan isi dalam kemasan, tutupnya yang berbentuk tub cukup menyita perhatianku kala itu.

Perlahan aku baca secara detail baik kandungan produk maupun  fungsinya maklum keraguan tentu bergelanyut didalam benak apalagi ini produk baru dan pastinya kudu hati-hati ditambah lagi produk ini kurang terkenal dipasaran (belum masuk iklan TV). Dan setelah beberapa detik pengamatan akhirnya hati ku klik untuk membeli dan sampai sekarang sudah masuk hampir satu tahun pemakaian dan sejauh ini hasilnya tidak mengecewakan.

Sebenernya, yang bikin aku tertarik terhadap produk ini adalah fungsinya untuk “membantu mengurangi komedo yang tampak” dan dari pernyataan tersebut nyatanya terbukti setelah penggunaan secara rutin. Dulu, aku memiliki komedo yang cukup meresahkan apalagi ketika menggunakan bedak suka keihatan tuh putih-putih kecil tak rata dibagian hidung oleh sebab itu aku jadi sering membeli produk pure pack gitu padalah hal tersebut sungguh menyakitkan dan tidak baik jika digunakan terlalu sering namun setelah satu tahun ini aku benar-benar tidak menggunakan bantuan pure pack lagi untuk mengangkat komedo dan aku fikir dikarnakan memang cocok dengan produk Himalaya ini.

Dari fungsi yang telah disebutkan sebelumnya enggak perez, memang benar Himalaya ini sangat membantu dalam mengurangi komedo yang tampak asalkan rutin digunakan dan rajin memakainya ketika pulang dari luar atau penggunaan make up yang dapat menyumbat pori-pori.

Butiran-butiran scrubnya sangat-sangat membantu dalam pengangkatan kulit mati, awalnya aku berfikiran bahwa butiran-butiran tersebut dapat menyebabkan kulit tambah kering karna memang jenis kulitku adalah kulit kering sehingga cukup khawatir namun nyatanya tidak sama sekali membuat kulit kering. Himalaya Herbals Gentle Exfoliating Daily Face Wash tidak menimbulkan busa saat digunakan sehingga tak perlu khawatir menjadikan kulit semakin kering oleh bahan deterjen yang biasa digunakan. Sayangnya produk yang di import dari India ini masih jarang ditemukan di minimarket-minimarket tak seperti produk sejenis yaitu bi*re dll jadi, aku cukup membutuhkan effort untuk membeli jika persediaan dikosan sudah habis karna store terdekat itu WS Toserba apabila di WS habis mau gak mau aku harus beli ke Mirota Kampus kadang sekalian kebawah kalo dari Jalan Kaliurang km 14.5. Namun, kalo mager kebawah botol berbentuk tube ini bener-bener aku pencetin sampai dengan titik terakhir dan hal ini tergambar jelas pada pict diatas haha.

Biasanya aku beli Himalaya Herbals Gentle Exfoliating Daily Face Wash yang ukuran 50 ml selain lebih praktis juga ekonomis dengan harga Rp.15.000,- dan lumayan bertahan sampai dengan 1.5 bulan dengan pemakaian rutin 2 kali sehari. Sebenernya Himalaya facial wash ini banyak variannya dikarnakan aku udah cocok sama Himalaya Herbals Gentle Exfoliating jadi males coba yang lain kecuali memang sedang habis terpaksa aku akan menggunakan Himalaya yang lain.

[Experience] Bandara Muara Bungo (MRB)

Source Image

Muara Bungo pagi itu, suhu terasa lebih dingin namun harus segera bergegas kembali ke Jogja dan meninggalkan rumah untuk sementara. Dari subuh kami sekeluarga memang sudah saling mengingatkan untuk barang apa saja yang akan dibawaku ke Jogja.
Untuk kepulangan ke Jogja kali ini untuk pertama kalinya aku melalui Bandara Muara Bungo (MRB) yang hanya 20 menit perjalanan saja dari rumah sehingga tidak perlu lagi menempuh perjalanan Bungo-Jambi yang menghabiskan waktu cukup melelahkan hingga 6 jam.
Kenapa aku selama ini tidak memilih Bandara Muara Bungo (MRB) sebagai titik awal penerbangan ke Jogja adalah karna harga tiket yang cukup mahal menurutku dibandingkan jika melalui Bandara Sultan Thaha bahkan jika dari MRB bisa seharga dua kali perjalanan jika dari Jambi, maklum anak kosan harus banget perhitungan demi bisa bertahan hidup nantinya diperantauan, meskipun sebenarnya orang tua yang membelikan.
Untuk kali ini sedikit aku akan membahas terkait pengalaman pertama tentang bandara Muara Bungo, jika dilihat sekilas bandara ini mengingatkanku pada bandara Jambi yang lama dimana aku ketika dari atau ke pesawat tidak perlu naik kelantai 2 bandara terlebih dahulu sebab bandara saat itu masih tergolong kecil dan skalanya belum International nah itulah yang aku lihat dari Bandara MRB. Seluruh bangunannya masih baru dan mengkilap, karna memang bandara ini diresmikan baru beberapa tahun kebelakang, sempat vakum dan akhirnya kembali beroperasi dengan jam terbang setiap hari berbeda saat dulu yang hanya ada 3 kali jam terbang dalam seminggu, ini juga yang menjadi alasan kenapa tidak memilih terbang dari bandara MRB.
Dulu, pesawat yang digunakan tergolong pesawat kecil sejenis Jet star. Untuk sekarang masyarakat Bungo lumayan menikmati pesawat boing lebih besar yakni Sriwijaya Air dimana merupakan maskapai satu-satunya di bandara Muara Bungo oleh karna itulah kenapa harga tiketnya cukup mahal dikarnakan tidak adanya pesaing harga antar maskapai. Kisaran tiket yang dibayarkan untuk sekali penerbangan ke Jogja diatas 1,3 juta sekian bahkan bisa jauh lebih mahal dari itu.
Bandara yang mulai beroperasi sejak tahun 2012 ini berdiri diatas tanah yang diikhlaskan oleh Bapak untuk dibeli sepersekian meter oleh pihak bandara waktu itu, aku aja sampai heran kok ya bisa-bisanya tanah bapak menjadi salah satu yang terkena pembangunan bandara tersebut, tapi untungnya tetap ada uang untuk ganti ruginya waktu itu dari pihak bandara.

Seperti Bandara baru pada umumnya kondisi tempat cukup nyaman, toilet mushala disediakan oleh Bandara namun masih sedikit orang-orang yang berjualan di Bandara tersebut.
Sangking kecilnya bandara ini, saat setelah dipersilahkan masuk kedalam oleh AVSEC langsung barang-barang yang ku bawa melewati X-RAY kemudian check-in lalu diarahkan ke ruang tunggu yang berada disebelah kiri ruangan masih lantai satu sebelum ke ruang tunggu seperti biasa aku melalui pemeriksaan X-RAY lagi dan senengnya itu jarak antar masing-masingnya tidak lebih dari 8 langkah, tidak seperti bandara besar kebanyakan Yaiyalaah.
Saat sampai di ruang tunggu keadaan masih sepi penumpang bahkan bisa dihitung jari, baru kemudian 30 menit sebelum keberangkatan tiba-tiba saja ruang tunggu dipenuhi banyak orang, masyarakat Indonesia memang doyan on time mepet pikirku haha.
Kemudian avsec mengarahkan para penumpang keatas pesawat dan akupun terbang, menikmati perjalanan selama 1 jam 40 menit diatas awan, kelebihan dari maskapai Sriwijaya Air ini adalah penumpang mendapat snack dan air minum sekedar mengganjal perut yang sedang lapar kan lumayan gak kayak yang sebelah hehe.
Sampai di Bandara Soekarno Hatta ternyata aku tidak perlu menggunakan bus untuk mengantar ke terminal dan ruang tunggu berikutnya cukup bingung sih, sebab terbiasa naik bus dulu sebelum ke terminal selanjutnya maklum biasa pake li*n.
Karna bingung dan hampit exit dari bandara akhirnya nanya deh sama petugas bandara ternyata diarahkan ke CS transit Sriwijaya Air terlebih dahulu, jadi kesimpulannya saat ketika turun pesawat kita sudah langsung berada diterminal yang dituju tidak perlu lagi berdiri dan rebutan bus. Kemudian mb cs tersebut memberi intruksi agar naik kelantai 2 dan jalan ke kiri sampailah saya diruang tunggu F7 bandara Soeta kemudian aku melanjutkan penerbangan ke Yogyakarta dan See you babay.


[MyStory] KEMBALI KE TANAH RANTAU JOGJA


Rindu belum juga usai namun kenyataannya liburan tinggal menghitung hari, dan kembali dihadapkan pada realita untuk kembali melanjutkan studi di kota istimewa Yogyakarta.

Akhir-akhir ini seringkali terdengar berita duka dari berbagai grup yang aku ikuti, entah grup sekolah, kuliah, maupun beberapa organisasi yang memberikan berita seperti “Telah berpulang ke Rahmatullah keluarga (Ayah/Ibu)… dari teman kita bernama…”. Mengejutkan rasanya bagiku, dan bahkan diantaranya kepulangan tersebut tidak di sertai riwayat penyakit yang dimiliki. Seketika itu ucapan belasungkawa bergantian diucapkan secara terbuka bersama-sama dengan cara copy paste maupun dikirimkan secara pribadi. Mungkin dalam hal ini aku menjadi salah satu orang yang dianggap tidak peduli bukan berarti tak memiliki empati namun entah kenapa menurutku membaca ucapan belasungkawa tersebut sungguh menyayat hati, berbagai kata-kata menguatkan tentang kesabaran maupun ketabahan agar tegar tak tega aku membaca lalu mengirimkannya.

 Ada cara penguatan lain menurutku, selain langsung datang kerumah duka, mungkin memanjatkan do’a pada sang Pencipta adalah cara yang lebih baik dijadikan pilihan, sebab Ialah yang memiliki ketentuan untuk membolak-balikkan hati seseorang yang mungkin saat ini temanku tersebut hatinya sedang diliputi kesedihan yang tak kunjung usai pun dapat digantikan dengan kebahagian. Ketika bagian dari seseorang yang dicintai harus pergi selamanya dan hati yang diusahakan sekuat jiwa ragapun dikerahkan untuk mengikhlaskan, kesalutan aku berikan melihat ia yang sedang bersedih hatinya namun masih menyempatkan diri membalas ucapan bela sungkawa yang bermaksud menguatkan digrup yang ia ikuti.

Berbeda keadaan jikalau ucapan Selamat Ulang Tahun yang diberikan untuk seorang teman, jari jemariku dengan mudahnya menuliskan sebait Doa maupun pengharapan untuknya karna menurut budaya selama ini pertambahan usia adalah hal yang membahagiakan bagi sebahagian orang.

 Adanya kabar duka cita yang datang dalam waktu berdekatan, membuatku lebih sadar bahwa umur tak ada satupun yang mengetahui sampai kapan Tuhan memberikan kehidupan. Lantas, apa saja yang telah aku persiapkan? kemudian tertunduk lesu. Entah mengapa, seringnya membaca berita tersebut membuat hati berat meninggalkan rumah serta kembali ketanah rantau, tak menampik jika ada rasa khawatir ketika kepulanganku selanjutnya ada yang berkurang dari jumlah keluarga saat ini, khawatir tak mendengar canda tawa mereka nantinya, ataupun beradu argumen tentang artis layar kaca dan sebagainya.

Maka dari itu, setiap balik kerumah sebisa mungkin family time dengan keluarga, melihat aksi tak masuk akal dilayar kaca, ataupun membahas topik-topik ringan, dan sebisa mungkin menghindari intensitasku pada layar handphone yang sungguh menyita waktu meskipun disadari.

Mendengar cerewetnya emak, wejangan bapak, reseknya si adek, maupun religiusnya si abang benar-benar menjadi suatu hal yang aku syukuri hingga saat ini moment kebersamaan yang melebihi apapun itu, karna belum tentu ketika balik keperantauan nantinya intensitas komunikasi bisa sesering saat dirumah. Oleh karena itu, tak mudah menggadaikannya dengan kesibukan lain.

Belum lagi, beragam berita duka yang kudapatkan sudah tentu kembali menyadarkan diri bahwa orang tua tak lagi muda beragam kerutan menghiasi wajah beliau berdua, keluhan beragam penyakit pun sering terdengar ditelinga entah pegal linu, asam urat, pusing dan sebagainya.

Meskipun usia sudah masuk kepala dua, tetap saja kekhawatiran menghinggapiku kembali tentang bapak mamak yang akan semakin tua, melihat rambut hitamnya yang memudar bewarna keputihan, jalannya yang semakin melambat, meskipun begitu doanya tak pernah lupa selalu mengalir untuk anak-anaknya termasuk aku putri satu-satunya.

 Harapanku saat ini mungkin teramat sederhana bisa terus dapat merasakan senyum, tawa, marah, maupun cerewet keduanya lama-lama seperti tahun-tahun sebelumnya ketika datang kembali saat dimana mudik tiba, itu saja. Sebab, suksesku terasa tak lengkap tanpa beliau berdua “Orang Tua”.

[PUISI] Sepaham Kamu Pada Dirimu




Sampai detik ini berapa banyak postingan keluhan, Engkau Bagikan
Tanpa pertimbangan manfaat bagi yang melihatnya
Padahal kita Tau media sosial adalah dunia maya
Yang dapat diakses oleh siapa saja
Tua muda sama tak ada beda

Apa yang diharapkan?
Perhatian, diakui, atau ingin bahagia
Merasa puas ketika telah membaginya
Padahal kita tau, dunia sosial tak hanya milikmu
Tak bisakah? Ditahan sejenak untuk orang lain tau
Tentang duka mu yang kau buat lebih pelik dari masalahmu

Rasa khawatirku bahkan bukan untuk pembacanya
Melainkan penulis postingannya
Apakah, sekitarmu telah mengacuhkan hadirmu
Sebab gadget digengam selalu
Ataukah kamu merasa terabaikan
Oleh lingkungan yang tidak lagi memperdulikan

Jikalau keluhmu sedikit terarahkan
Mungkin postmu menjadi karya sastra yang bisa engkau ciptakan
Puluhan lembar bahkan ratusan
Maka, berhentilah share keluhanmu
Sebab orang lain tak terlalu ingin tahu

[PUISI] Keistiqomahan Tergadaikan


Kita manusia beragama
Yang keyakinannya adalah turunan orang tua
Maka tak jarang, pendirian mudah tergoyahkan
Oleh lembaran mata uang
Hijau, biru, merah yang bernilai ratusan

Saat dicela baru busung kan dada
Lantang membela ketika merasa dinista
Padahal selama ini, santai ketika ibadah ditunda
Berbuat baik harus ada imbalannya
Lupa berbagi atas sebagian harta
Alasannya, kebenaran perlu ditegakkan
Bagaimanapun caranya, meskipun sikap tak layak jadi cerminan

Mari mawas diri
Sudah seberapa cinta kita pada keyakinan sendiri
Berani unjuk diri, siap tampil jadi panutan
Sebab peristiwa triple angka
Adalah pengingat kita tentang sejauh mana
Bertahan disaat modernisasi negeri
Berhasil menggerus indentitas diri  setiap hari

[Ojek Online] Cerita Bersama Ojek dan Taksi Online



27 januari 2017,

Ini adalah kali pertama saya benar-benar datang sendirian ke ibu kota Jakarta menggunakan transportasi darat yaitu kereta api, tiba di Stasiun Senin pada malam hari pukul 21.00 teman yang sebelumnya lebih dahulu tiba di Jakarta menyarankan untuk menggunakan jasa transportasi online saja untuk menuju kosannya karna lebih murah, inilah awal mula akhirnya saya menggunakan jasa transportasi via online. Saya pun dari Jogja memang sudah mempersiapkan instal aplikasi seperti UBER, GRAB dan Gojek di handphone. Pertama kali mencoba aplikasinya sedikit ragu khawatir salah input lokasi atau bagaimana dan saya nyasar di Jakarta gak bisa membayangkan jika benar terjadi. Untungnya teman telah shareloc secara akurat dan saya tinggal menginputkan saja lokasi yang telah dituliskan pada tujuan keberangkatan.

Memesan taksi online lewat aplikasi membuat satu jam telah saya habiskan untuk menunggu mas driver datang mejemput ketika itu, cerita bermula saat terjadi miss comunication antara saya dan driver tersebut. Saya menunggu didepan pintu masuk sambil mencocokan antara plat kendaraan (mobil) dan aplikasi namun sepanjang penglihatan tidak jua saya temukan, drivernya pun secara bergantian dengan saya saling telfon untuk memastikan posisi namun karna saya orang awam daerah stasiun alhasil petunjuk yang saya berikan adalah hanya memberi informasi berdiri didepan pintu masuk. Si mas driver sudah berulang kali mengitari stasiun (mengabari via telfon), sampai ia kehabisan pulsa dan malah ditipu oleh sang penjual pulsa gadungan hingga uang 50 rb pun melayang sanking tergesa-gesanya ingin menghubungi saya kembali.

Dalam benak saya ingin rasanya meng-cancel, namun sebelum saya tega melakukan hal tersebut saya berfikir kembali khawatirnya mas driver sudah datang jauh-jauh untuk menjemput. Akhirnya, sayapun memutuskan berjalan agak keluar stasiun sambil membawa big koper namun tak jua saya lihat taksi online tersebut hingga pada akhirnya saya pun melihat mobil dengan plat nomor kendaraan sesuai dengan layar HP terparkir dan sayapun langsung bergegas menghampiri sambil memberikan rona wajah bete nungguin tapi langsung berubah seketika, saat masnya cerita sudah muter stasiun lebih dari 5 kali plus kena tipu lagi, ditambah wajah kelelahan yang ia tampakkan langsung membuat saya iba dan kembali seperti semula bad mood tadi. Mungkin sebenarnya salah saya yang hanya menginformasikan posisi kurang akurat sebab kurang terlalu paham lokasi stasiun jadi gak enak sudah BT sebab, ternyata maps di HP si driver tidak sesuai, tapi terima kasih mas tidak cancel orderan dan sabar muter-muter meskipun sampai ditipu counter gadungan, serta sabar nelfon berkali-kali memastikan posisi.

****

Kisah selanjutnya datang dari bapak ojek online Uber yang mengantarkan saya ke tempat saudara di Ciledug. Sepanjang perjalanan beliau cerita bahwa telah resign dari kerjaannya terdahulu yaitu petugas kargo dan memilih untuk ojek online saja, karna beranggapan pemasukan ojek online lebih besar dibandingkan jadi karyawan. Sebab, selain jam kerja yang kita tentukan sendiri potongan biaya yang disetorkan kepada pihak uber juga tidak terlalu besar hanya mengambil sekitar 10 % saja dari penghasilan yaitu kisaran 100-200 rb setiap bulannya dan tentu lebih murah jika dibandingkan ojek biasa yang terkadang dituntut oleh setoran yang besar dan menunggu dipangkalan berjam-jam hingga akhirnya penghasilan jauh dari yang diharapkan. Bapaknya langsung cerita banyak ketika tau saya berasal dari Jogja sebab bapak dan istri sebentar lagi akan berlibur ke Jogja, segala hal ditanyakan mulai dari penginapan yang murah, kendaraan dan tempat wisata yang menarik tidak lupa jadi bahasan. Banyak cerita juga bapaknya mengenai pengalaman hidup di Tangerang bersama istri yang hingga kini di 6 tahun pernikahan belum juga diamanahkan keturuanan beliau tak lupa untuk meminta doa saya agar lekas diberi momongan ditengah keluarga kecilnya. Bapak rider juga langsung mendoakan saya ketika tau saya sedang menjadi anak magang di PT. Angkasa Pura II “Semoga setelah lulus menjadi karyawan angkasa pura ya neng”.

Perjalanan ke Ciledug lumayan jauh ditambah cuaca cukup panas belum lagi macetnya masyaAllah dan bapaknya belum tau jalan didaerah tersebut, ditambah lagi lokasi tujuan tidak sesuai. Alhasil sayapun muter-muter terlebih dahulu sebelum sampai tujuan karna tidak tau jalan hingga bapaknya berinisiatif untuk mengakhiri orderan agar saya tidak mendapatkan tarif yang lebih mahal lagi sayapun menyetujuinya. Bapak rider mengantarkan saya ke lokasi tujuan dengan suka rela tanpa perlu membayar tambahan lagi karna kasian liat saya yang kebingunagn tuturnya, baik sekali bapak ini. Beliau bercerita bahwa “ngojek bukan hanya sekedar mencari rizki halal namun juga ladang pahala kita untuk menunaikan bantuan kepada orang”.

Setelah beberapa kali bertanya akhirnya saya pun sampai dilokasi tujuan dengan selamat sentosa tanpa kurang suatu apapun, bapak rider saya berikan uang lebih sebagai tanda terima kasih meskipun menolak awalnya.

****

Hari-hari kami lewati sebagai anak magang, bersama rutinitas yang sama yaitu rekap data dan pukul 16.30 adalah waktu krusial yang dinanti-nanti buat saya apalagi kalo bukan jam pulang kantor. Sebagai anak magang yang tidak memiliki kendaraan, ojek online lah yang menjadi alternatif transportasi saat itu meskipun ada beberapa angkot namun jarang ada yang lewat jika sudah lebih dari jam 5 sore. Menariknya, beberapa kali saya memperoleh rider yang sama bahkan sampai hafal tanpa maps kelokasi tujuan. Saat itu kebanyakan rider ojek online adalah orang-orang yang kerja dibandara diantaranya adalah orang kargo. Banyak cerita saya dapatkan selama perjalanan dari para rider ini. Sehingga topik tentang ojek online adalah menu pembicaraan kami sehari-hari sepulang kerja. Kebanyakan cerita suka dan lucunya sih dibandingkan dukanya, belum lagi yang pada curhat tentang penumpang, kehidupan sosial, ekonomi dsb. Bahkan gak sedikit yang mendoakan agar kelak bisa menjadi pegawai benerannya perusahaan tempat magang  saat itu AAmiin. Sukses terus ya mamang-mamang yang menemani cerita satu bulan kita.

****  

Dan taraaa, terakhir menggunakan ojek mobil online adalah ketika sampai di bandara Adisutjipto Yogyakarta ada moment menegangkan ketika itu dimana saat kita diserbu oleh bapak-bapak taksi yang menawarkan harga lumayan mahal meskipun bapak-bapak tersebut bilang sudah diberi potongan dan bahkan sampai mengejar-ngejar kita meskipun saya sudah menyatakan akan dijemput oleh saudara dalam hal ini yang paling membuat kecewa adalah cara mereka memaksa maklum baru turun dari pesawat, hujan, ditambah lagi 30 menitan menunggu bagasi itu sudah sangat membuat mood tidak bersahabat apalagi mendengar banyaknya suara yang menghampiri di kanan dan kiri ingin rasanya lekas sampai kosan. Saya tidak habis pikir saat itu adalah mendapatkan ancaman dari bapak-bapaknya seperti “Awas ya mb, kalo pesan taksi online bisa habis, runyam urusannya nanti” dengan wajah tegang beliau tambah membuat saya kemelut saja malam itu maksudnya “habis” disini apa ey?, dan memang saat itu saya sudah memesan taksi online dan tinggal menunggu jemputan saja, tambah bikin panik lagi ketika bapak driver bilang bahwa jangan hidupkan hp selama saya menjemput, oke saya ikutin intruksinya sebab sebelumnya sudah mendapatkan cancel dari driver padahal udah nunggu jadi okein saja.

Yang membuat tidak habis pikir disaat saya sedang panik-paniknya datanglah bapak driver dengan santai langsung membawa koper saya ke mobil, saat itu saya sudah intruksikan menggunakan baju apa, jilbab apa, dan sedang berdiri dimana  bapaknya tiba-tiba muncul dengan bilang “Mba, Linda?” oh iya Pak langsung aja reflek mikir kok bapaknya biasa aja dan tumben-tumbennya bapak driver jemput saya bukan dengan kendaraan ternyata eh ternyata itu adalah bagian dari strateginya agar tidak mendapat perlakuan buruk dari supir taksi lainnya. Terima kasih banyak bapak, sudah menyelamatkan kami dari serbuan tawaran dan harga yang tak ramah bagi mahasiswa itu.

Disepanjang perjalanan ceritalah saya bahwa sudah deg-deg kan sama bapak drivernya takut terjadi apa-apa, eh bapaknya malah ketawa dan nanggepinnya santai aja karna memang sudah disiasati dari awal. Perjalanan bandara kekosan cukup memakan waktu lama akhirnya sampailah pada pertanyaan

“Biasanya driver sampai jam berapa Pak?” ini sudah mau pulang      mb karna memang kita satu jalur jadi sekalian saja.

“dan bla-bla-bla”

Bapaknya cerita jika beliau berhasil menguliahkan kedua putranya sampai dengan sarjana di Universitas Gajah Mada meskipun sebagai supir taksi dimana Universitas ini dulunya adalah mimpi si bapak yang memutuskan tidak kuliah sebab tidak jua diterima meskipun sudah tes 3 kali.

Ayah si bapak seorang tentara dulunya tentu hal tersebut adalah keputusan yang berat ketika tau anaknya tidak ingin melanjutkan kuliah namun sang ayah sungguh mengerti bagaimana membentuk anaknya menjadi seseorang yang bertanggung jawab atas keputusan besar tersebut. Waktupun berjalan, rasa ketidakpuasan bapak tersebut akhirnya diwujudkan oleh kedua anaknya dimana setiap jam 12.00 malam selalu membangunkan anak-anaknya untuk mengerjakan sholat tahajud dan memberikan seperti suntikan semangat tersirat

“Nak, bapak kerja (sebagai supir taksi) dari pagi sampai dengan malam ini hanya dapat segini, kalian mesti tetap bersyukur dan harus lebih dari bapak giat belajarnya dan jangan lupa selalu berdoa”.

Akhirnya, singkat cerita si sulung pun lulus dan memperoleh tempat kerja yang baik yakni di Aneka Tambang. Awalnya, sang ibu tidak mengizinkan bahkan marah besar pada suaminya dikarnakan malah meminta anaknya bekerja jauh dari rumah dan sempat ngambek tidak teguran sama si bapak (saya yang denger malah jadi senyum sendiri). Lain cerita saat diakhir-akhir bulan kata si bapak tiba-tiba si ibu malah senyum sendiri dan ramah lagi sama bapak ternyata eh ternyata baru dapat kiriman dari sang anak yang meminta ibu untuk membuat rekening bank sendiri.

“Wanita mah kalo udah dikasih berupa materi langsung jadi peri lagi, gelak si bapak” (kita malah ketawa).

Berselang tidak beberapa lama sang anak membelikan kendaraan roda empat untuk kedua orang tuanya yang saat ini digunakan sebagai kendaraan taksi online, bahkan ketika berkunjung ke Jogja sang kakak membelikan kendaraan roda dua buat sang adik tanpa sepengatuan orang tuanya.

“Yang bikin saya pertama kali nangis didepan anak-anak itu mb, ketika mengantarkan sang kakak kembali ketempat kerja” loh kenapa Pak? Tanya saya.

“Gak nyangka sama ucapan si kakak kepada adiknya, rukunnya mereka berdua itu bikin suasana memang jadi haru ditambah lagi si kakak bilang kepada adiknya -“dik, dulu mas kuliah gak diberikan fasilitas kendaraan sama bapak ibu namun mas tetap semangat biar bapak ibu bisa senyum liat mas, dan Ahamdulillah berkat Do’a beliau berdua segala urusan mas dipermudah jadi karna kamu mas berikan fasilitas kendaraan bukan untuk menurunkan prestasi akademikmu melainkan hanya membantu mobilitasmu saja tidak lebih, yaudah mas pamit ya ”. ketika itu saya yang mendengar sebagai bapak langsung nangis mb, liat anak saya sudah besar dan mampu memberi nasihat luar biasa kepada adiknya.

“Pak, ini kita bentar lagi sampai” (saya mengingatkan) 
Berakhirnya cerita sang bapak berakhir pula perjalanan kita.

Wah, terima kasih banyak Pak sudah mau banyak berbagi pada kita yang mahasiswa ini menginspirasi sekali yang terkadang sering lupa atas jasa-jasa kedua orang tua sebab ego sendiri. Terima kasih Bapak. Btw bapaknya baru 5 hari jadi driver dan baru beberapa hari pula mengoperasikan Smartphone pemberian anaknya yang katanya kalo mengirim pesan bukan seperti bapak sama anak melainkan teman, anak saya sering sms saya “Gimana coy hari ini?” mantap bro jawab saya haha lucu sih kalo dipikir-pikir.

****

Masih banyak lagi cerita lainnya, seperti rider yang masih mahasiswa, rider yang keturunan arab dan double degre, ataupun bapak driver yang shock liat argo Rp.0,- padahal sudah mengantarkan berkilo-kilo meter dan lainnya namun saya cukupkan sampai disini ceritanya

****

Tulisan ini adalah refleksi bentuk kekecewaan saya terhadap bentrok yang sering terjadi antara jasa transportasi konvensional dan online yang bahkan sampai memakan korban Nauzubillah, sekeras inikah kehidupan kita saat ini untuk mencari makan yang halal hati nurani tergadaikan rasa kemanusiaan terabaikan persaudaaraan pun hancur sebab berebut penumpang, budaya timur seolah terlupakan karna setoran yang mengejar, namun penumpang tak kunjung datang.

Bukan ingin menjatuhkan salah satu diantaranya tapi kita sebagai manusia yang hidup dijaman modern dan teknologi seperti saat ini memang tidak mampu mengelak atas tawaran kemudahan yang diberikan dan inovasi-inovasi terbarukan yang tentu siap bersaing dipasaran. Jika diflashback kembali dahulu sebelum ada telfon genggam (HP) wartel dan telfon koin menjamur dimana-mana namun setelah muncul HP wartel dan telfon-telfon tersebut sudah ditinggalkan beralih pada mode komunikasi yang lebih praktis yakni Handphone yang saat ini berkembang lagi menjadi smartphone dan mungkin akan terus berkembang. Apakah dulu wartel-wartel tersebut mengadakan demo? Karna akhirnya mereka tutup dan gulung tikar. Nyatanya tidak bukan orang saat itu sepertinya lebih sabar dan menerima dibandingkan sekarang, kalo iya mereka protes mungkin hingga saat ini tidak pernah menggunakan kan HP. Apakah iya dengan hadirnya ojek online tersebut malah membuat kebrutalan dimana-mana semakin menjadi-jadi tambah mirisnya adalah salah seorang pelaku kerusuhan hanya ikut-ikutan meskipun merusak kendaraan taksi online dan bahkan ada mahasiswa yang menunggak membayar kuliah sampai cuti dikarnakan keterbatasan biaya dan memilih ojek online untuk menghidupinya namun naas pun ia alami ketika ditabrak dengan sengaja oleh seorang pengendara transportasi umum yang telah dibakar emosi. Duh mari Pak istighfar dulu, dan mari mencari jawaban kenapa penumpang saat ini lebih banyak menggunakan jasa online dibandingkan konvensional. Jika mengetahui jawabannya akan tau hal-hal yang perlu ditingkatkan dan perlu dibenahi selama ini. Sambil bertanya pada diri sudah ditaraf itukah saya saat ini dalam memberi pelayanan terbaik kepada penumpang?, dan jujur saya sebagai pengguna ojek online merasa aman saat itu dikarnakan data rider yang langsung terhubung pada email saya, ditambah lagi bapak ridenya sopan-sopan dan ramah. 


Salah kah mereka yang mencari rezeki halal untuk keluarganya? Atau diantara kalian telah kufur nikmat dan suudzon pada sang pemberi rizki yaitu ALLAH SWT karna khawatir tidak diberi rizki esok hari?, padahal tidak ada satu makhluk pun yang tidak dijamin oleh ALLAH SWT atas rizkinya, andalah yang tau jawabannya.

 See you.
Powered by Blogger.