[Experience] Bandara Muara Bungo (MRB)

Source Image

Muara Bungo pagi itu, suhu terasa lebih dingin namun harus segera bergegas kembali ke Jogja dan meninggalkan rumah untuk sementara. Dari subuh kami sekeluarga memang sudah saling mengingatkan untuk barang apa saja yang akan dibawaku ke Jogja.
Untuk kepulangan ke Jogja kali ini untuk pertama kalinya aku melalui Bandara Muara Bungo (MRB) yang hanya 20 menit perjalanan saja dari rumah sehingga tidak perlu lagi menempuh perjalanan Bungo-Jambi yang menghabiskan waktu cukup melelahkan hingga 6 jam.
Kenapa aku selama ini tidak memilih Bandara Muara Bungo (MRB) sebagai titik awal penerbangan ke Jogja adalah karna harga tiket yang cukup mahal menurutku dibandingkan jika melalui Bandara Sultan Thaha bahkan jika dari MRB bisa seharga dua kali perjalanan jika dari Jambi, maklum anak kosan harus banget perhitungan demi bisa bertahan hidup nantinya diperantauan, meskipun sebenarnya orang tua yang membelikan.
Untuk kali ini sedikit aku akan membahas terkait pengalaman pertama tentang bandara Muara Bungo, jika dilihat sekilas bandara ini mengingatkanku pada bandara Jambi yang lama dimana aku ketika dari atau ke pesawat tidak perlu naik kelantai 2 bandara terlebih dahulu sebab bandara saat itu masih tergolong kecil dan skalanya belum International nah itulah yang aku lihat dari Bandara MRB. Seluruh bangunannya masih baru dan mengkilap, karna memang bandara ini diresmikan baru beberapa tahun kebelakang, sempat vakum dan akhirnya kembali beroperasi dengan jam terbang setiap hari berbeda saat dulu yang hanya ada 3 kali jam terbang dalam seminggu, ini juga yang menjadi alasan kenapa tidak memilih terbang dari bandara MRB.
Dulu, pesawat yang digunakan tergolong pesawat kecil sejenis Jet star. Untuk sekarang masyarakat Bungo lumayan menikmati pesawat boing lebih besar yakni Sriwijaya Air dimana merupakan maskapai satu-satunya di bandara Muara Bungo oleh karna itulah kenapa harga tiketnya cukup mahal dikarnakan tidak adanya pesaing harga antar maskapai. Kisaran tiket yang dibayarkan untuk sekali penerbangan ke Jogja diatas 1,3 juta sekian bahkan bisa jauh lebih mahal dari itu.
Bandara yang mulai beroperasi sejak tahun 2012 ini berdiri diatas tanah yang diikhlaskan oleh Bapak untuk dibeli sepersekian meter oleh pihak bandara waktu itu, aku aja sampai heran kok ya bisa-bisanya tanah bapak menjadi salah satu yang terkena pembangunan bandara tersebut, tapi untungnya tetap ada uang untuk ganti ruginya waktu itu dari pihak bandara.

Seperti Bandara baru pada umumnya kondisi tempat cukup nyaman, toilet mushala disediakan oleh Bandara namun masih sedikit orang-orang yang berjualan di Bandara tersebut.
Sangking kecilnya bandara ini, saat setelah dipersilahkan masuk kedalam oleh AVSEC langsung barang-barang yang ku bawa melewati X-RAY kemudian check-in lalu diarahkan ke ruang tunggu yang berada disebelah kiri ruangan masih lantai satu sebelum ke ruang tunggu seperti biasa aku melalui pemeriksaan X-RAY lagi dan senengnya itu jarak antar masing-masingnya tidak lebih dari 8 langkah, tidak seperti bandara besar kebanyakan Yaiyalaah.
Saat sampai di ruang tunggu keadaan masih sepi penumpang bahkan bisa dihitung jari, baru kemudian 30 menit sebelum keberangkatan tiba-tiba saja ruang tunggu dipenuhi banyak orang, masyarakat Indonesia memang doyan on time mepet pikirku haha.
Kemudian avsec mengarahkan para penumpang keatas pesawat dan akupun terbang, menikmati perjalanan selama 1 jam 40 menit diatas awan, kelebihan dari maskapai Sriwijaya Air ini adalah penumpang mendapat snack dan air minum sekedar mengganjal perut yang sedang lapar kan lumayan gak kayak yang sebelah hehe.
Sampai di Bandara Soekarno Hatta ternyata aku tidak perlu menggunakan bus untuk mengantar ke terminal dan ruang tunggu berikutnya cukup bingung sih, sebab terbiasa naik bus dulu sebelum ke terminal selanjutnya maklum biasa pake li*.
Karna bingung dan hampit exit dari bandara akhirnya nanya deh sama petugas bandara ternyata diarahkan ke CS transit Sriwijaya Air terlebih dahulu, jadi kesimpulannya saat ketika turun pesawat kita sudah langsung berada diterminal yang dituju tidak perlu lagi berdiri dan rebutan bus. Kemudian mb cs tersebut memberi intruksi agar naik kelantai 2 dan jalan ke kiri sampailah saya diruang tunggu F7 bandara Soeta kemudian saya melanjutkan penerbangan ke Yogyakarta dan See you babay

[MyStory] KEMBALI KE TANAH RANTAU JOGJA


Rindu belum juga usai namun kenyataannya liburan tinggal menghitung hari, dan kembali dihadapkan pada realita untuk kembali melanjutkan studi di kota istimewa Yogyakarta.

Akhir-akhir ini seringkali terdengar berita duka dari berbagai grup yang aku ikuti, entah grup sekolah, kuliah, maupun beberapa organisasi yang memberikan berita seperti “Telah berpulang ke Rahmatullah keluarga (Ayah/Ibu)… dari teman kita bernama…”. Mengejutkan rasanya bagiku, dan bahkan diantaranya kepulangan tersebut tidak di sertai riwayat penyakit yang dimiliki. Seketika itu ucapan belasungkawa bergantian diucapkan secara terbuka bersama-sama dengan cara copy paste maupun dikirimkan secara pribadi. Mungkin dalam hal ini aku menjadi salah satu orang yang dianggap tidak peduli bukan berarti tak memiliki empati namun entah kenapa menurutku membaca ucapan belasungkawa tersebut sungguh menyayat hati, berbagai kata-kata menguatkan tentang kesabaran maupun ketabahan agar tegar tak tega aku membaca lalu mengirimkannya.

 Ada cara penguatan lain menurutku, selain langsung datang kerumah duka, mungkin memanjatkan do’a pada sang Pencipta adalah cara yang lebih baik dijadikan pilihan, sebab Ialah yang memiliki ketentuan untuk membolak-balikkan hati seseorang yang mungkin saat ini temanku tersebut hatinya sedang diliputi kesedihan yang tak kunjung usai pun dapat digantikan dengan kebahagian. Ketika bagian dari seseorang yang dicintai harus pergi selamanya dan hati yang diusahakan sekuat jiwa ragapun dikerahkan untuk mengikhlaskan, kesalutan aku berikan melihat ia yang sedang bersedih hatinya namun masih menyempatkan diri membalas ucapan bela sungkawa yang bermaksud menguatkan digrup yang ia ikuti.

Berbeda keadaan jikalau ucapan Selamat Ulang Tahun yang diberikan untuk seorang teman, jari jemariku dengan mudahnya menuliskan sebait Doa maupun pengharapan untuknya karna menurut budaya selama ini pertambahan usia adalah hal yang membahagiakan bagi sebahagian orang.

 Adanya kabar duka cita yang datang dalam waktu berdekatan, membuatku lebih sadar bahwa umur tak ada satupun yang mengetahui sampai kapan Tuhan memberikan kehidupan. Lantas, apa saja yang telah aku persiapkan? kemudian tertunduk lesu. Entah mengapa, seringnya membaca berita tersebut membuat hati berat meninggalkan rumah serta kembali ketanah rantau, tak menampik jika ada rasa khawatir ketika kepulanganku selanjutnya ada yang berkurang dari jumlah keluarga saat ini, khawatir tak mendengar canda tawa mereka nantinya, ataupun beradu argumen tentang artis layar kaca dan sebagainya.

Maka dari itu, setiap balik kerumah sebisa mungkin family time dengan keluarga, melihat aksi tak masuk akal dilayar kaca, ataupun membahas topik-topik ringan, dan sebisa mungkin menghindari intensitasku pada layar handphone yang sungguh menyita waktu meskipun disadari.

Mendengar cerewetnya emak, wejangan bapak, reseknya si adek, maupun religiusnya si abang benar-benar menjadi suatu hal yang aku syukuri hingga saat ini moment kebersamaan yang melebihi apapun itu, karna belum tentu ketika balik keperantauan nantinya intensitas komunikasi bisa sesering saat dirumah. Oleh karena itu, tak mudah menggadaikannya dengan kesibukan lain.

Belum lagi, beragam berita duka yang kudapatkan sudah tentu kembali menyadarkan diri bahwa orang tua tak lagi muda beragam kerutan menghiasi wajah beliau berdua, keluhan beragam penyakit pun sering terdengar ditelinga entah pegal linu, asam urat, pusing dan sebagainya.

Meskipun usia sudah masuk kepala dua, tetap saja kekhawatiran menghinggapiku kembali tentang bapak mamak yang akan semakin tua, melihat rambut hitamnya yang memudar bewarna keputihan, jalannya yang semakin melambat, meskipun begitu doanya tak pernah lupa selalu mengalir untuk anak-anaknya termasuk aku putri satu-satunya.

 Harapanku saat ini mungkin teramat sederhana bisa terus dapat merasakan senyum, tawa, marah, maupun cerewet keduanya lama-lama seperti tahun-tahun sebelumnya ketika datang kembali saat dimana mudik tiba, itu saja. Sebab, suksesku terasa tak lengkap tanpa beliau berdua “Orang Tua”.

[PUISI] Sepaham Kamu Pada Dirimu




Sampai detik ini berapa banyak postingan keluhan, Engkau Bagikan
Tanpa pertimbangan manfaat bagi yang melihatnya
Padahal kita Tau media sosial adalah dunia maya
Yang dapat diakses oleh siapa saja
Tua muda sama tak ada beda

Apa yang diharapkan?
Perhatian, diakui, atau ingin bahagia
Merasa puas ketika telah membaginya
Padahal kita tau, dunia sosial tak hanya milikmu
Tak bisakah? Ditahan sejenak untuk orang lain tau
Tentang duka mu yang kau buat lebih pelik dari masalahmu

Rasa khawatirku bahkan bukan untuk pembacanya
Melainkan penulis postingannya
Apakah, sekitarmu telah mengacuhkan hadirmu
Sebab gadget digengam selalu
Ataukah kamu merasa terabaikan
Oleh lingkungan yang tidak lagi memperdulikan

Jikalau keluhmu sedikit terarahkan
Mungkin postmu menjadi karya sastra yang bisa engkau ciptakan
Puluhan lembar bahkan ratusan
Maka, berhentilah share keluhanmu
Sebab orang lain tak terlalu ingin tahu

[PUISI] Keistiqomahan Tergadaikan


Kita manusia beragama
Yang keyakinannya adalah turunan orang tua
Maka tak jarang, pendirian mudah tergoyahkan
Oleh lembaran mata uang
Hijau, biru, merah yang bernilai ratusan

Saat dicela baru busung kan dada
Lantang membela ketika merasa dinista
Padahal selama ini, santai ketika ibadah ditunda
Berbuat baik harus ada imbalannya
Lupa berbagi atas sebagian harta
Alasannya, kebenaran perlu ditegakkan
Bagaimanapun caranya, meskipun sikap tak layak jadi cerminan

Mari mawas diri
Sudah seberapa cinta kita pada keyakinan sendiri
Berani unjuk diri, siap tampil jadi panutan
Sebab peristiwa triple angka
Adalah pengingat kita tentang sejauh mana
Bertahan disaat modernisasi negeri
Berhasil menggerus indentitas diri  setiap hari

[Ojek Online] Cerita Bersama Ojek dan Taksi Online



27 januari 2017,

Ini adalah kali pertama saya benar-benar datang sendirian ke ibu kota Jakarta menggunakan transportasi darat yaitu kereta api, tiba di Stasiun Senin pada malam hari pukul 21.00 teman yang sebelumnya lebih dahulu tiba di Jakarta menyarankan untuk menggunakan jasa transportasi online saja untuk menuju kosannya karna lebih murah, inilah awal mula akhirnya saya menggunakan jasa transportasi via online. Saya pun dari Jogja memang sudah mempersiapkan instal aplikasi seperti UBER, GRAB dan Gojek di handphone. Pertama kali mencoba aplikasinya sedikit ragu khawatir salah input lokasi atau bagaimana dan saya nyasar di Jakarta gak bisa membayangkan jika benar terjadi. Untungnya teman telah shareloc secara akurat dan saya tinggal menginputkan saja lokasi yang telah dituliskan pada tujuan keberangkatan.

Memesan taksi online lewat aplikasi membuat satu jam telah saya habiskan untuk menunggu mas driver datang mejemput ketika itu, cerita bermula saat terjadi miss comunication antara saya dan driver tersebut. Saya menunggu didepan pintu masuk sambil mencocokan antara plat kendaraan (mobil) dan aplikasi namun sepanjang penglihatan tidak jua saya temukan, drivernya pun secara bergantian dengan saya saling telfon untuk memastikan posisi namun karna saya orang awam daerah stasiun alhasil petunjuk yang saya berikan adalah hanya memberi informasi berdiri didepan pintu masuk. Si mas driver sudah berulang kali mengitari stasiun (mengabari via telfon), sampai ia kehabisan pulsa dan malah ditipu oleh sang penjual pulsa gadungan hingga uang 50 rb pun melayang sanking tergesa-gesanya ingin menghubungi saya kembali.

Dalam benak saya ingin rasanya meng-cancel, namun sebelum saya tega melakukan hal tersebut saya berfikir kembali khawatirnya mas driver sudah datang jauh-jauh untuk menjemput. Akhirnya, sayapun memutuskan berjalan agak keluar stasiun sambil membawa big koper namun tak jua saya lihat taksi online tersebut hingga pada akhirnya saya pun melihat mobil dengan plat nomor kendaraan sesuai dengan layar HP terparkir dan sayapun langsung bergegas menghampiri sambil memberikan rona wajah bete nungguin tapi langsung berubah seketika, saat masnya cerita sudah muter stasiun lebih dari 5 kali plus kena tipu lagi, ditambah wajah kelelahan yang ia tampakkan langsung membuat saya iba dan kembali seperti semula bad mood tadi. Mungkin sebenarnya salah saya yang hanya menginformasikan posisi kurang akurat sebab kurang terlalu paham lokasi stasiun jadi gak enak sudah BT sebab, ternyata maps di HP si driver tidak sesuai, tapi terima kasih mas tidak cancel orderan dan sabar muter-muter meskipun sampai ditipu counter gadungan, serta sabar nelfon berkali-kali memastikan posisi.

****

Kisah selanjutnya datang dari bapak ojek online Uber yang mengantarkan saya ke tempat saudara di Ciledug. Sepanjang perjalanan beliau cerita bahwa telah resign dari kerjaannya terdahulu yaitu petugas kargo dan memilih untuk ojek online saja, karna beranggapan pemasukan ojek online lebih besar dibandingkan jadi karyawan. Sebab, selain jam kerja yang kita tentukan sendiri potongan biaya yang disetorkan kepada pihak uber juga tidak terlalu besar hanya mengambil sekitar 10 % saja dari penghasilan yaitu kisaran 100-200 rb setiap bulannya dan tentu lebih murah jika dibandingkan ojek biasa yang terkadang dituntut oleh setoran yang besar dan menunggu dipangkalan berjam-jam hingga akhirnya penghasilan jauh dari yang diharapkan. Bapaknya langsung cerita banyak ketika tau saya berasal dari Jogja sebab bapak dan istri sebentar lagi akan berlibur ke Jogja, segala hal ditanyakan mulai dari penginapan yang murah, kendaraan dan tempat wisata yang menarik tidak lupa jadi bahasan. Banyak cerita juga bapaknya mengenai pengalaman hidup di Tangerang bersama istri yang hingga kini di 6 tahun pernikahan belum juga diamanahkan keturuanan beliau tak lupa untuk meminta doa saya agar lekas diberi momongan ditengah keluarga kecilnya. Bapak rider juga langsung mendoakan saya ketika tau saya sedang menjadi anak magang di PT. Angkasa Pura II “Semoga setelah lulus menjadi karyawan angkasa pura ya neng”.

Perjalanan ke Ciledug lumayan jauh ditambah cuaca cukup panas belum lagi macetnya masyaAllah dan bapaknya belum tau jalan didaerah tersebut, ditambah lagi lokasi tujuan tidak sesuai. Alhasil sayapun muter-muter terlebih dahulu sebelum sampai tujuan karna tidak tau jalan hingga bapaknya berinisiatif untuk mengakhiri orderan agar saya tidak mendapatkan tarif yang lebih mahal lagi sayapun menyetujuinya. Bapak rider mengantarkan saya ke lokasi tujuan dengan suka rela tanpa perlu membayar tambahan lagi karna kasian liat saya yang kebingunagn tuturnya, baik sekali bapak ini. Beliau bercerita bahwa “ngojek bukan hanya sekedar mencari rizki halal namun juga ladang pahala kita untuk menunaikan bantuan kepada orang”.

Setelah beberapa kali bertanya akhirnya saya pun sampai dilokasi tujuan dengan selamat sentosa tanpa kurang suatu apapun, bapak rider saya berikan uang lebih sebagai tanda terima kasih meskipun menolak awalnya.

****

Hari-hari kami lewati sebagai anak magang, bersama rutinitas yang sama yaitu rekap data dan pukul 16.30 adalah waktu krusial yang dinanti-nanti buat saya apalagi kalo bukan jam pulang kantor. Sebagai anak magang yang tidak memiliki kendaraan, ojek online lah yang menjadi alternatif transportasi saat itu meskipun ada beberapa angkot namun jarang ada yang lewat jika sudah lebih dari jam 5 sore. Menariknya, beberapa kali saya memperoleh rider yang sama bahkan sampai hafal tanpa maps kelokasi tujuan. Saat itu kebanyakan rider ojek online adalah orang-orang yang kerja dibandara diantaranya adalah orang kargo. Banyak cerita saya dapatkan selama perjalanan dari para rider ini. Sehingga topik tentang ojek online adalah menu pembicaraan kami sehari-hari sepulang kerja. Kebanyakan cerita suka dan lucunya sih dibandingkan dukanya, belum lagi yang pada curhat tentang penumpang, kehidupan sosial, ekonomi dsb. Bahkan gak sedikit yang mendoakan agar kelak bisa menjadi pegawai benerannya perusahaan tempat magang  saat itu AAmiin. Sukses terus ya mamang-mamang yang menemani cerita satu bulan kita.

****  

Dan taraaa, terakhir menggunakan ojek mobil online adalah ketika sampai di bandara Adisutjipto Yogyakarta ada moment menegangkan ketika itu dimana saat kita diserbu oleh bapak-bapak taksi yang menawarkan harga lumayan mahal meskipun bapak-bapak tersebut bilang sudah diberi potongan dan bahkan sampai mengejar-ngejar kita meskipun saya sudah menyatakan akan dijemput oleh saudara dalam hal ini yang paling membuat kecewa adalah cara mereka memaksa maklum baru turun dari pesawat, hujan, ditambah lagi 30 menitan menunggu bagasi itu sudah sangat membuat mood tidak bersahabat apalagi mendengar banyaknya suara yang menghampiri di kanan dan kiri ingin rasanya lekas sampai kosan. Saya tidak habis pikir saat itu adalah mendapatkan ancaman dari bapak-bapaknya seperti “Awas ya mb, kalo pesan taksi online bisa habis, runyam urusannya nanti” dengan wajah tegang beliau tambah membuat saya kemelut saja malam itu maksudnya “habis” disini apa ey?, dan memang saat itu saya sudah memesan taksi online dan tinggal menunggu jemputan saja, tambah bikin panik lagi ketika bapak driver bilang bahwa jangan hidupkan hp selama saya menjemput, oke saya ikutin intruksinya sebab sebelumnya sudah mendapatkan cancel dari driver padahal udah nunggu jadi okein saja.

Yang membuat tidak habis pikir disaat saya sedang panik-paniknya datanglah bapak driver dengan santai langsung membawa koper saya ke mobil, saat itu saya sudah intruksikan menggunakan baju apa, jilbab apa, dan sedang berdiri dimana  bapaknya tiba-tiba muncul dengan bilang “Mba, Linda?” oh iya Pak langsung aja reflek mikir kok bapaknya biasa aja dan tumben-tumbennya bapak driver jemput saya bukan dengan kendaraan ternyata eh ternyata itu adalah bagian dari strateginya agar tidak mendapat perlakuan buruk dari supir taksi lainnya. Terima kasih banyak bapak, sudah menyelamatkan kami dari serbuan tawaran dan harga yang tak ramah bagi mahasiswa itu.

Disepanjang perjalanan ceritalah saya bahwa sudah deg-deg kan sama bapak drivernya takut terjadi apa-apa, eh bapaknya malah ketawa dan nanggepinnya santai aja karna memang sudah disiasati dari awal. Perjalanan bandara kekosan cukup memakan waktu lama akhirnya sampailah pada pertanyaan

“Biasanya driver sampai jam berapa Pak?” ini sudah mau pulang      mb karna memang kita satu jalur jadi sekalian saja.

“dan bla-bla-bla”

Bapaknya cerita jika beliau berhasil menguliahkan kedua putranya sampai dengan sarjana di Universitas Gajah Mada meskipun sebagai supir taksi dimana Universitas ini dulunya adalah mimpi si bapak yang memutuskan tidak kuliah sebab tidak jua diterima meskipun sudah tes 3 kali.

Ayah si bapak seorang tentara dulunya tentu hal tersebut adalah keputusan yang berat ketika tau anaknya tidak ingin melanjutkan kuliah namun sang ayah sungguh mengerti bagaimana membentuk anaknya menjadi seseorang yang bertanggung jawab atas keputusan besar tersebut. Waktupun berjalan, rasa ketidakpuasan bapak tersebut akhirnya diwujudkan oleh kedua anaknya dimana setiap jam 12.00 malam selalu membangunkan anak-anaknya untuk mengerjakan sholat tahajud dan memberikan seperti suntikan semangat tersirat

“Nak, bapak kerja (sebagai supir taksi) dari pagi sampai dengan malam ini hanya dapat segini, kalian mesti tetap bersyukur dan harus lebih dari bapak giat belajarnya dan jangan lupa selalu berdoa”.

Akhirnya, singkat cerita si sulung pun lulus dan memperoleh tempat kerja yang baik yakni di Aneka Tambang. Awalnya, sang ibu tidak mengizinkan bahkan marah besar pada suaminya dikarnakan malah meminta anaknya bekerja jauh dari rumah dan sempat ngambek tidak teguran sama si bapak (saya yang denger malah jadi senyum sendiri). Lain cerita saat diakhir-akhir bulan kata si bapak tiba-tiba si ibu malah senyum sendiri dan ramah lagi sama bapak ternyata eh ternyata baru dapat kiriman dari sang anak yang meminta ibu untuk membuat rekening bank sendiri.

“Wanita mah kalo udah dikasih berupa materi langsung jadi peri lagi, gelak si bapak” (kita malah ketawa).

Berselang tidak beberapa lama sang anak membelikan kendaraan roda empat untuk kedua orang tuanya yang saat ini digunakan sebagai kendaraan taksi online, bahkan ketika berkunjung ke Jogja sang kakak membelikan kendaraan roda dua buat sang adik tanpa sepengatuan orang tuanya.

“Yang bikin saya pertama kali nangis didepan anak-anak itu mb, ketika mengantarkan sang kakak kembali ketempat kerja” loh kenapa Pak? Tanya saya.

“Gak nyangka sama ucapan si kakak kepada adiknya, rukunnya mereka berdua itu bikin suasana memang jadi haru ditambah lagi si kakak bilang kepada adiknya -“dik, dulu mas kuliah gak diberikan fasilitas kendaraan sama bapak ibu namun mas tetap semangat biar bapak ibu bisa senyum liat mas, dan Ahamdulillah berkat Do’a beliau berdua segala urusan mas dipermudah jadi karna kamu mas berikan fasilitas kendaraan bukan untuk menurunkan prestasi akademikmu melainkan hanya membantu mobilitasmu saja tidak lebih, yaudah mas pamit ya ”. ketika itu saya yang mendengar sebagai bapak langsung nangis mb, liat anak saya sudah besar dan mampu memberi nasihat luar biasa kepada adiknya.

“Pak, ini kita bentar lagi sampai” (saya mengingatkan) 
Berakhirnya cerita sang bapak berakhir pula perjalanan kita.

Wah, terima kasih banyak Pak sudah mau banyak berbagi pada kita yang mahasiswa ini menginspirasi sekali yang terkadang sering lupa atas jasa-jasa kedua orang tua sebab ego sendiri. Terima kasih Bapak. Btw bapaknya baru 5 hari jadi driver dan baru beberapa hari pula mengoperasikan Smartphone pemberian anaknya yang katanya kalo mengirim pesan bukan seperti bapak sama anak melainkan teman, anak saya sering sms saya “Gimana coy hari ini?” mantap bro jawab saya haha lucu sih kalo dipikir-pikir.

****

Masih banyak lagi cerita lainnya, seperti rider yang masih mahasiswa, rider yang keturunan arab dan double degre, ataupun bapak driver yang shock liat argo Rp.0,- padahal sudah mengantarkan berkilo-kilo meter dan lainnya namun saya cukupkan sampai disini ceritanya

****

Tulisan ini adalah refleksi bentuk kekecewaan saya terhadap bentrok yang sering terjadi antara jasa transportasi konvensional dan online yang bahkan sampai memakan korban Nauzubillah, sekeras inikah kehidupan kita saat ini untuk mencari makan yang halal hati nurani tergadaikan rasa kemanusiaan terabaikan persaudaaraan pun hancur sebab berebut penumpang, budaya timur seolah terlupakan karna setoran yang mengejar, namun penumpang tak kunjung datang.

Bukan ingin menjatuhkan salah satu diantaranya tapi kita sebagai manusia yang hidup dijaman modern dan teknologi seperti saat ini memang tidak mampu mengelak atas tawaran kemudahan yang diberikan dan inovasi-inovasi terbarukan yang tentu siap bersaing dipasaran. Jika diflashback kembali dahulu sebelum ada telfon genggam (HP) wartel dan telfon koin menjamur dimana-mana namun setelah muncul HP wartel dan telfon-telfon tersebut sudah ditinggalkan beralih pada mode komunikasi yang lebih praktis yakni Handphone yang saat ini berkembang lagi menjadi smartphone dan mungkin akan terus berkembang. Apakah dulu wartel-wartel tersebut mengadakan demo? Karna akhirnya mereka tutup dan gulung tikar. Nyatanya tidak bukan orang saat itu sepertinya lebih sabar dan menerima dibandingkan sekarang, kalo iya mereka protes mungkin hingga saat ini tidak pernah menggunakan kan HP. Apakah iya dengan hadirnya ojek online tersebut malah membuat kebrutalan dimana-mana semakin menjadi-jadi tambah mirisnya adalah salah seorang pelaku kerusuhan hanya ikut-ikutan meskipun merusak kendaraan taksi online dan bahkan ada mahasiswa yang menunggak membayar kuliah sampai cuti dikarnakan keterbatasan biaya dan memilih ojek online untuk menghidupinya namun naas pun ia alami ketika ditabrak dengan sengaja oleh seorang pengendara transportasi umum yang telah dibakar emosi. Duh mari Pak istighfar dulu, dan mari mencari jawaban kenapa penumpang saat ini lebih banyak menggunakan jasa online dibandingkan konvensional. Jika mengetahui jawabannya akan tau hal-hal yang perlu ditingkatkan dan perlu dibenahi selama ini. Sambil bertanya pada diri sudah ditaraf itukah saya saat ini dalam memberi pelayanan terbaik kepada penumpang?, dan jujur saya sebagai pengguna ojek online merasa aman saat itu dikarnakan data rider yang langsung terhubung pada email saya, ditambah lagi bapak ridenya sopan-sopan dan ramah. 


Salah kah mereka yang mencari rezeki halal untuk keluarganya? Atau diantara kalian telah kufur nikmat dan suudzon pada sang pemberi rizki yaitu ALLAH SWT karna khawatir tidak diberi rizki esok hari?, padahal tidak ada satu makhluk pun yang tidak dijamin oleh ALLAH SWT atas rizkinya, andalah yang tau jawabannya.

 See you.

[Kos] Murah Dekat Bandara Soekarno-Hatta (Daerah Rawa Bokor)


Sebenarnya ini adalah definisi murah untuk standar harga kosan di Tangerang bukan kota lain yang biaya hidup terkenal murah seperti Jogjakarta.

 Cerita sedikit dikarnakan mengambil Kerja Praktek di luar kota sehingga mengharuskan saya untuk mencari kos terdekat dari perusahaan untuk dapat di huni selama satu bulan. Atas dasar belum memiliki tempat tinggal yang pasti inilah maka saya pun berangkat dari Jogja 5 hari sebelum Kerja Praktek di Angkasa Pura II dimulai pada tanggal 1 Februari 2017 sampai dengan 28 Februari 2017.

Berhubung lokasi Kerja Praktek saya berada di lingkungan Bandara Soekarno-Hatta jadi fokus mencari kosan dibagian timur dan bagian barat bandara saja hal ini berdasarkan informasi dari pembimbing KP serta dibantu 4 teman saya yang berangkat dari Kemayoran untuk mencari kosan di Tangerang. Keliling-keliling dari pagi sampai dengan sore berjalan seharian namun tidak mendapatkan hasil apapun dikarnakan rata-rata kosan penuh. Range harga kosan yang kami dapatkan yaitu antara 800 ribu-2 juta untuk berdua. Awalnya di bagian timur kami mencari sekitaran daerah Rawa Bokor karna kawasan ini dilalui angkot satu kali saja jika ingin ke Bandara dengan tarif 6 ribu rupiah. Namun setelah berkeliling daerah tersebut hanya ada satu kosan kosong seharga 800 ribu sayangnya kondisi dan lokasi membuat kami kurang nyaman jika harus dihuni satu bulan, adalagi kosan Jawa Timur masih kosong dengan harga 1.5 Juta perbulan fasilitas Kasur, Lemari, AC, dan Wifi kebetulan ada dua kamar yang sedang kosong namun kosan Jawa Timur disyaratkan minimal harus tinggal selama dua bulan, padahal kita hanya Kerja Praktek selama satu bulan saja sudah di nego-nego ibunya tetap kekeuh jika tidak dapat disewakan satu bulan saja dan akhirnya kami pun menyerah serta tidak membawa hasil apa-apa.

Semangat pun tak gentar melanjutkan perjalanan kembali demi tempat tinggal satu bulan yang belum juga kami dapatkan, tanya sana sini bahkan warga sekitarpun juga bingung menyarankan kami harus kemana mencari kosan, meskipun disekitar Bandara adalah kawasan padat penduduk namun jumlah kosan yang disediakan tidak sebanding dengan jumlah orang yang membutuhkan, khususnya adalah para pegawai dan karyawan yang bekerja di sekitar Bandara. Maka dari itu, jika investasi kosan dilokasi ini sepertinya bakal menjadi bisnis yang menggiurkan.  

Setelah menyusuri kosan di daerah Rawa Bokor, saya pun melanjutkan ke bagian barat Bandara yakni di sekitaran jalan M1, minusnya memilih kosan dikawasan ini jika tidak membawa kendaraan pribadi maka harus menempuh jarak yang cukup jauh ke tempat kerja sehingga harus dua kali naik angkot dan ini bakalan menjadi pemborosan biaya transportasi menurut saya, maklum tidak membawa kendaraan jadi angkutan umum yang digunakan mesti diperhatikan.

Muter-muter tibalah kita di perkampungan orang-orang Cina berhubung hari itu sedang perayaan imlek jadi, para warga menggunakan pakaian berwarna merah seluruhnya. Tanya sana-sini kami pun ditunjukkan sebuah kos-kosan yang lumayan besar tapi kosan campur alias cowok-cewek (nyampur dalam satu atap), bagi yang akan mencari kosan di sekitar Jakarta maupun Tangerang jangan kaget jika rata-rata kosan itu campuran dimana bisa dihuni oleh laki-laki maupun perempuan. Awalnya karna putus asa berfikiran ingin mengambil kosan itu saja kalo-kalo tidak ada pilihan lain harga 1.5 juta dan kamarnya luas, AC, dengan double bed. Namun kamipun masih menimbang-nimbang kembali.

 Keesokan harinya pada hari minggu 29 Januari 2017 dikarnakan kosan yang belum juga fix akhirnya memutuskan ke Tangerang lagi berangkat dari kemayoran menggunakan kereta dari stasiun Kemayoran ke Poris. Untuk pencaharian kosan yang kedua ini dibantu oleh saudara partner KP saya yang kerja di Bandara sehingga mengetahui tentang lokasi di daerah sana. Awalnya kami ditawarkan kosan kosong seharga 800 ribu dikawasan penduduk sekitar masjid Al-Huda Rawa Bokor namun, masih kurang cocok bagi kami yang nantinya bakalan tinggal berdua. Ada tawaran kosan yang kedua besar kamarnya tapi angker untung ibu kosannya jujur bahwa beberapa orang sebelum kami sering mendapat kejadian aneh-aneh percaya gak percaya sih tapi cukup membuat merinding kamarnya dipojokan karna sering kali kosong lama mungkin jadi penyebab ada makhluk lain yang berminat tinggal tanpa membayar kosan, serem juga jadinya jika satu bulan kami harus uji nyali.

Singkat cerita akhirnya kami dipertemukan pada kosan yang sekarang dimana sebentar lagi genap satu bulan kami tinggali dan kembali ke Jogja lagi. Dipertemukan dengan Ibu Sawiyah beliau adalah pemilik kosan. Setelah drama panjang diatas dan melihat-lihat kosan ibu Sawiyah kami pun sepakat untuk mengambilnya serta langsung memberi DP saat itu juga khawatir diambil orang sebab kosan tersebut baru saja dikosongkan pada malam hari sebelum kami datang, telat sehari saja mungkin sudah diambil orang pikir saya. Maklum penghuni baru sayapun kepo dengan fasilitas yang ada seperti percakapan dibawah ini.

“Bu, disini ada wifi?” tanya saya
“Wifi apaan ya neng”
*Kemudian hening…
“hehe gak jadi bu”

(Untuk penghuni berikutnya, jangan coba-coba tanyakan tentang wifi kalo gak ingin ditanya balik.)

“Bu bisa minta no HP?”
“Oiya ada, bentar ya neng ibu liat HP”
*menunggu..
“neng coba ketikin aja no HP nya di HP ibu”
“mana sini bu hpnya?, Hpnya mati bu mungkin habis bateray”
“oh bentar yak,
(ibunya nyolokin charger hp yang udah longgar, meskipun sudah dililit dayapun tak terisi-isi)”
“gini bu, kita tulis no kami dikertas aja ya”
“ibunya pun menyodorkan koran bekas gorengan”
*akhirnya drama pun berakhir

Kami kembali dua hari kemudian sekaligus membawa barang-barang

Ibu Sawiyah adalah pemilik kosan yang juga merupakan seorang ibu tangguh luar biasa bersemangat dan perhatian sangat pada kami ramahnya pun tiada tandingannya, berjualan gorengan demi membiayai dua orang putrinya dan telah ditinggal oleh suami ke rahmatullah mengharuskan beliau banting tulang lebih keras lagi seperti tiap hari harus bangun pagi kepasar membeli bahan untuk membuat gorengan yang dijajakan pada beberapa lapak. Uang Asuransi kematian suami dari pihak bandara dua tahun lalu dimanfaatkan ibu Sawiyah untuk membangun kosan tiga pintu ini disewakan seharga 700 ribu/orang naik 800 ribu jika dihuni dua orang.

Kosan tanpa nama yang berada di Jalan Kober gang masuk depan masjid Alhasaini ini menjadi tempat berteduh kami selama satu bulan. Tempatnya tidak jauh dari jalan raya, Indomart, Alfamart dan para penjual makanan, namun susah akses pada atm BRI maupun BNI berhubung di kantor disediakan fasilitas ATM lengkap jadi bukan menjadi masalah.

Ibunya agak bawel jadi pasti bakalan mudah akrab sama penghuni kosannya, bawelnya si perhatian yang baik seperti sering mengingatkan kita.

Neng ,sepatunya masukin dalam kamar aja takut basah kehujaan
Neng, nih gorengan dagangan ibu nyisa makan aja gratis
Neng, jemurannya diangkat, bentar lagi mau hujan
Neng udah makan? Kalo mau nyarap noh nasih uduk didepan
Neng, jangan lupa matiin lampu kamar ya
Neng, jangan lupa matiin keran ya
Neng, tadi jemurannya ibu pindahin karna hujan
Neng
Neng
Neng… haha

…Dan ketika sakit
Masih puyeng neng, sini ibu kerikin
Udah makan neng?
Udah minum obat?
Dan berkali kali ngetuk pintu buat ngingetin sangking perhatiannya si ibu berhubung saat itu sedang sendirian karna izin sakit tidak ngantor.

Ibunya juga pawang kecoa, bisa banget nangkep kecoa dengan tangan kosong, dan baik banget kalo diminta bantuan. Awal ngekos ada beberapa kecoa yang membuat risih tapi untung ada ibu.

ibu sering banget kami repotin, seperti
Bu ada air panas?
Bentar neng ibu masakin dkompor.

Selain ibu, tetangga disekitaran kosan juga pada friendly banget, dijamin betah deh tinggal dilingkungan seperti ini padahal awalnya berfikiran kalo orang di kota besar itu individaul serta antipati terhadap tetangga namun apa yang kita rasakan satu bulan ini mematahkan stigma tersebut.

Haloo bu, tulisan ini saya dedikasikan sebagai bentuk terima kasih kita pada ibu yang sudah perhatian banget pada kami satu bulan ini teman cerita sekaligus paling suka bikin orang ketawa, tanggal 1 maret 2017 kami sudah terbang ke Jogja lagi pukul 18,00, tulisan ini dibuat agar kamar kosan yang kami tinggali saat ini lekas ada penggantinya yang baru ya bu. Sekaligus membantu orang-orang diluar sana yang sedang mencari kosan dikawasan bandara agar tidak mengalami drama panjang pencarian kosan seperti apa yang kami rasakan sebelumnya.

Berikut ini adalah fasilitas kamar kos, sedehana si namun sudah cukup buat kami yang anak magang ini untuk tinggal sementara, jadi bagi anda yang sedang mencari kosan disekitaran bandara mungkin bisa dijadikan referensi.


Gang masuk kosan


Fasilitas Tempat Tidur
Fasilitas Lemari

Fasilitas Kamar Mandi Dalam
Fasilitas Kipas Angin
          Fasilitas  lainnya adalah Rak Sepatu, sapu dan ember. Berhubung kami hanya tinggal dikosan selama satu bulan  ibunya pun membebaskan biaya listrik dan PAM.

Alamat Kos:
Jalan  Kober (Gang Depan Masjid Jami'Alhassaini)
Rawa Bokor, Tangerang

No HP :
A.n Hapsah (anak ibu kos)
089643743874 



Powered by Blogger.